Di tengah persaingan sengit di industri kecerdasan buatan, CEO Anthropic, Dario Amodei, dan CEO OpenAI, Sam Altman, memiliki perbedaan pendapat tentang kesepakatan dengan Departemen Pertahanan AS. Amodei menyebutkan bahwa OpenAI melakukan "teater keselamatan" dengan mengatakan bahwa kesepakatan mereka dengan Departemen Pertahanan AS memiliki proteksi terhadap penggunaan AI untuk kejahatan.
Anthropic sendiri telah menandatangani kontrak senilai $200 juta dengan Departemen Pertahanan AS, namun mereka tidak mau menerima permintaan akses tak terbatas ke teknologi AI mereka. Amodei mengatakan bahwa alasan mereka menolak kesepakatan tersebut adalah karena mereka tidak ingin AI mereka digunakan untuk melakukan pengawasan massal atau senjata otonom. Sementara itu, OpenAI mengatakan bahwa kesepakatan mereka dengan Departemen Pertahanan AS memiliki proteksi terhadap penggunaan AI untuk kejahatan.
Reaksi Publik dan Kritik
Reaksi publik terhadap kesepakatan OpenAI dengan Departemen Pertahanan AS sangat negatif, dengan penurunan penggunaan ChatGPT sebesar 295% setelah kesepakatan tersebut diumumkan. Amodei mengatakan bahwa upaya OpenAI untuk melakukan "spin" terhadap kesepakatan tersebut tidak berhasil, dan bahwa Anthropic dianggap sebagai "pahlawan" oleh publik. Ia juga mengatakan bahwa kesepakatan OpenAI dengan Departemen Pertahanan AS dianggap "sketchy" atau curiga oleh banyak orang.
Kritikus juga mengatakan bahwa hukum dapat berubah, dan apa yang dianggap ilegal sekarang dapat menjadi legal di masa depan. Oleh karena itu, kesepakatan OpenAI dengan Departemen Pertahanan AS dapat membahayakan masyarakat jika tidak ada proteksi yang cukup terhadap penggunaan AI untuk kejahatan.
Sumber: TechCrunch




